HIJAU

Tips Berkebun yang Hemat Air (1)

Hobi berkebun memang menyenangkan! Berkebun pun dapat membantu menenangkan pikiran. Ibu-ibu yang hobi berkebun tentunya memiliki beraneka ragam tanaman di rumahnya. Jika halaman rumah tidak begitu luas, Ibu tetap bisa menanam di dalam pot lho.
Tapi apakah Ibu tahu, tanaman yang ditanam di pot butuh lebih banyak air karena tanah lebih cepat kering dibanding tanaman yang ditanam langsung di tanah. Tentu saja, itu karena tanahnya terbatas hanya di dalam pot saja, sehingga air yang bisa ditampung sebagai persediaan juga terbatas.
Jadi, menanam di pot boros air dong? Benar sekali. Makanya, jika memungkinkan lebih baik menanam langsung di tanah karena lebih hemat air. Namun, walaupun Ibu menanam di pot,  Ibu tetap bisa hemat air kok! Coba cek tips berikut ini.
  • Kumpulkan tanaman-tanaman pot di satu area dan usahakan menaruhnya di tempat yang tidak terlalu terbuka atau terkena matahari langsung. Ini akan membantu mengurangi penguapan air. Selain lebih hemat air, Ibu juga lebih hemat waktu untuk menyiramnya, karena sudah dikumpulkan di satu tempat.
  • Masalah terbesar yang dialami tanaman pot adalah tanahnya yang lebih cepat kering sehingga sulit dibasahi. Tenang, masalah ini dapat diatasi dengan cara menambahkan bahan kimia yang disebut wetting agent. Bahan ini akan membuat tanah basah lebih lama. Jadi, Ibu tidak perlu menyiram terlalu sering. Bahan ini bisa membantu Ibu menghemat air sampai 50%.
  • Saat menyiram, rendam pot tanaman yang akan disiram dalam ember yang berisi air, rendam sampai seluruh potnya tenggelam dalam air. Biarkan sampai tidak ada gelembung udara keluar dari pot tanaman. Setelah itu angkat pot dari dalam air dan biarkan airnya menetes lagi ke dalam ember. Air ini bisa dipakai untuk tanaman yang lain. Hemat bukan?

    Lampu Tidur dari Botol Plastik Bekas


    Kalau sebelumnya kita sudah pernah mengkreasikan botol minuman bekas menjadi pot tanaman, kali ini kita punya alternatif lain. Ibu Mirza mengirimkan ide kreatifnya untuk mengubah botol minuman bekas menjadi lampu tidur. Penasaran bagaimana caranya? Simak penjelasan dari Ibu Mirza berikut ini:
    Alat dan Bahan:
  • Botol plastik bekas minuman. Jangan lupa dibersihkan dahulu sebelum dipakai.
  • Kabel listrik dengan colokan di ujungnya.
  • Lampu kecil, biasa disebut lampu cabai, lengkap dengan rumahnya.
  • Pisau cutter.
  • Lem plastik.
  • Cat semprot (pylox).
Cara Membuat:
  1. Potong bagian bawah botol plastik mengikuti bentuknya dengan pisau cutter. Jika bentuk botolnya bergelombang, ikuti saja menurut bentuknya. Bagian bawah botol ini yang akan dijadikan kaki lampu.
  2. Balik bagian bawah botol tadi sehingga tengkurap. Kemudian beri lem plastik di atasnya dan rekatkan dengan bagian atas botol yang juga dibalik. Sehingga yang menempel adalah bagian pantat botol dengan bagian tutup botol.
  3. Tunggu hingga lem kering.
  4. Buat lubang di bagian tengah pantat botol yang bertemu dengan tutup botol tadi seukuran dengan kabel yang akan digunakan.
  5. Warnai bagian luar dari botol itu dengan cat semprot dalam kemasan kaleng (pylox) atau menggunakan cat minyak yang disemprotkan menggunakan semprotan obat nyamuk. Ibu bisa pilih warna cat sesuai selera. Kemudian tunggu hingga cat kering.
  6. Setelah cat mengering, pasang lampu dan kabelnya. Rekatkan rumah lampu dengan lem pada bagian dalam tutup botol agar lebih kuat.
  7. Tambahkan beberapa ornamen atau hiasan sesuai dengan selera Ibu.
  8. Jadilah lampu kamar yang unik dan cantik.

    Water Reuse, Alternatif Pelestarian Air

    Apa itu Water Reuse?
    Seperti kita ketahui, sekarang ini air sudah hampir menjadi sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Karena kegiatan manusia telah banyak mencemari sumber-sumber air. Bahkan air hujan yang turun di daerah dengan tingkat polusi udara yang tinggi juga berubah menjadi hujan asam. Jika air sungai, air tanah, dan air hujan sudah tercemar, lalu dari mana lagi kita harus mengambil air untuk keperluan sehari-hari?
    Barangkali water reuse adalah jawabannya. Water reuse adalah penggunaan kembali air limbah yang telah diolah menjadi air reklamasi untuk tujuan yang bermanfaat. Air reklamasi adalah air bekas limbah rumah tangga, limbah kota, dan limbah industri yang telah melalui proses pengolahan dan hasil akhirnya memenuhi standar yang aman untuk digunakan kembali. Air reklamasi ini biasanya digunakan untuk pengairan kebun atau sawah dan keperluan lain selain untuk air minum.
    Mengapa Water Reuse?
    Kebutuhan akan air bersih semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Kebutuhan ini sangat mungkin melampaui jumlah sumber air yang ada, terutama pada musim-musim tertentu. Pada musim kemarau misalnya, sumber air pasti berkurang, tapi kebutuhan masyarakat tidak mungkin berkurang. Nah, water reuse ini bisa menjadi solusi terhadap masalah tersebut.
    Berikut ini adalah dua manfaat utama water reuse terhadap lingkungan hidup:
  9. Meningkatkan kuantitas air. Sistem water reuse menggunakan air reklamasi. Ini artinya kita tidak perlu mengambil banyak dari sumber air tanah karena kita punya sumber yang lain. Selain itu sistem water reuse juga bisa mengurangi penggunaan sumber air minum untuk keperluan selain minum seperti pengairan, industri, perumahan, rekreasi, dan lain-lain. Sumber air yang baru ini juga bisa digunakan untuk mengisi kembali sumber air yang telah terkuras habis dan meremajakan sumber air yang sebelumnya telah rusak.
  10. Meningkatkan kualitas air. Pengolahan air bekas (limbah) yang diterapkan oleh sistem water reuse tentu saja mengurangi kadar nutrisi (bahan organik yang mencemari lingkungan) yang dibuang ke badan air sehingga water reuse juga bermanfaat untuk mencegah polusi dan pencemaran air dan tanah.

    Cara-cara Unik "Menghijaukan" Rumah

    Ibu-ibu tentu sudah sering mendengar tentang penghijauan. Ya, penghijauan sering disebut juga sebagai penanaman kembali hutan yang gundul. Tapi, penghijauan sebenarnya tidak selalu harus dilakukan di hutan-hutan lho. Kita juga bisa mulai membuat rumah tercinta semakin hijau.

    Tapi bagaimana kalau kita tidak punya lahan yang cukup luas untuk ditanami? Ibu-ibu tak perlu khawatir karena Ibu Delia yang ahli berkebun memberikan sedikit tips dan trik untuk melakukan penghijauan di mana-mana.
  11. Membuat taman di atap rumah (roof-garden)
Bisa Ibu bayangkan kalau atap rumah kita berwarna hijau oleh tanaman? Pasti sejuk ya, Bu? Biasanya yang ditanam di atap adalah tanaman perdu dan rerumputan. Kedua tanaman ini bisa ditanam di media tanah seperti di taman biasa. Namun jika mau membuat tanaman atap, Ibu perlu membuat dak atap yang agak tebal, terutama di bagian yang menahan beban tanah. Jangan lupa juga membuat saluran air untuk menyiram tanaman dan saluran pembuangan untuk tempat air mengalir setelah penyiraman. Bila Ibu ingin menanam bunga warna-warni di taman atap, Ibu dapat berdiskusi terlebih dahulu dengan ahli taman. Dengan taman atap, udara sekitar rumah jadi lebih sejuk. Rumah pun tampak semakin indah.

  • Membuat taman vertikal (vertical garden)
Taman vertikal adalah taman yang dibuat meninggi ke atas. Sangat hemat tempat bukan? Taman vertikal ini bisa dibuat di dinding depan rumah, dinding samping, ataupun di dalam rumah yang ada area terbukanya. Biasanya dinding taman vertikal menggunakan sejenis bata yang berlubang-lubang yang kemudian diisi dengan tanah dan tanaman. Ada pula rak kawat yang dibuat khusus untuk tempat pot-pot tanaman agar tersusun rapi ke atas sehingga tampak seperti dinding hijau yang segar.

  • Kalau taman vertikal dirasa terlalu mahal, Ibu masih bisa mencoba membuat taman vertikal kecil-kecilan dengan rak unik yang berbentuk sekat-sekat yang bisa dipakai untuk menaruh pot tanaman bertumpuk-tumpuk. Seperti laci-laci kecil di mana tanaman hijau menyembul dari rongga-rongganya. Taman vertikal mini ini pasti terlihat unik dan asri.
Jadi, taman unik mana yang sesuai dengan kantong dan selera Ibu? Cobalah di rumah dan kirimkan foto taman cantik kreasi Ibu kepada kami. Agar kita bisa saling menginspirasi untuk melakukan penghijauan dimana saja.

0 komentar:

Posting Komentar